Sabtu, 05 Oktober 2013

Aku Menggoncang Dangdut dengan Jimat Penglaris

Sheila (38) penyanyi dangdut

Enam belas tahun aku telah malang melintang di dunia tarik suara. Bermula ketika di tahun 90 an, aku menjadi penyanyi bar di sebuah hotel berbintang di Jakarta Utara. Setahun lamanya, kujalani profesi ini. Berangkat pukul tujuh malam, pulang ke rumah jam dua atau tiga dini hari.
Di mata sebagian orang, mungkin ada yang berpandangan negatif. Penyanyi bar identik dengan dunia glamour. Dunia malam yang penuh hura-hura. Di tengah suasana hotel yang melenakan. Aku tidak menyalahkan pandangan mereka. Karena jam kerjaku memang boleh dibilang seperti kalong. Siang istirahat, malam begadang. Sebuah kenyataan yang mengundang orang menganggap penyanyi bar mudah diajak apa saja. Tapi aku bukan wanita sembarangan.
Kerja malam, bagiku, bukan berarti aku harus larut dalam situasi. Aku tidak mau. Meski tidak sedikit laki-laki hidung belang, yang mencoba  mendekati. Bagiku, menyanyi adalah menyanyi. Dan tugasku hanya itu. Aku tidak mau melakukan sesuatu yang bertentangan dengan nurani. Honor yang kudapat sudah lebih dari cukup untuk bertahan hidup di Jakarta.
Setahun lamanya kujalani profesi itu, hingga akhirnya kelelahan fisik membuatkan mundur teratur. Aku terserang typhus. Otomatis, aku harus mengubah pola hidupku. Aku tidak lagi diperkenankan keluar malam.
Memang, selama menjadi penyanyi bar, keluargaku tidak ada yang tahu. Waktu itu, mereka hanya menganggap aku begadang dengan teman-teman di RT sebelah. Kebetulan di sana ada aula yang biasa menjadi tempat mangkal anak-anak muda. Di sanalah setiap malam, aku luangkan waktu bila tidak ada job, tiga kali seminggu.

“Dari mana sih, perempuan kok pulang malam-malam?” awalnya pertanyaan seperti itu sering kudengar dari kakak. Sampai akhirnya kakak bosan sendiri. Ia tidak lagi bertanya macam-macam. Karena ia sudah tahu kebiasaanku yang begadang setiap malam di aula belakang.
Di mata keluargaku, tidak ada yang berubah dalam diriku. Meski aku menjadi penyanyi bar. Karena itulah mereka juga tidak curiga. Terlebih bila, saat keluar dari rumah, aku selalu mengenakan pakaian biasa. Sementara kostum panggung sudah kutitipkan di rumah teman sesama penyanyi.
Aku juga tidak suka hidup berfoya-foya. Honor menyanyi lebih banyak yang kutabung serta membeli kostum. Karena pada dasarnya, aku memang suka membeli pakaian.

Aku berjaya dengan jimat penglaris

Tahun 94, aku come back. Layaknya seorang atlit yang telah menyatakan pensiun. Aku kembali terjun ke dunia tarik suara. Kali ini, aku bergabung dengan band Della (nama samaran) membangun masa depan baru. Rasanya, menyanyi sudah menjadi duniaku. Hati menjadi plong, kesal pun hilang bila sedang menyanyi. Aku sangat menikmati dunia nyanyi.
Di sinilah,  aku menjalin kisah kasih asmara dengan salah satu anggota band. Reidi, namanya. Ia pemain drum. ‘Witing trisno jalaran soko kulino’, kata pepatah Jawa. Lantaran intensitas pertemuan yang tinggi, Reidi menyatakan kesukaannya kepadaku. Kusambut uluran tangan itu dengan hati senang. Hatiku seakan terbang. Reidi adalah sosok pemuda yang baik dan bertanggung jawab.
Rumah Reidi yang luas pun dijadikan based camp. Di sanalah, kami mengadakan latihan atau sekadar kumpul-kumpul. Di sana pula, aku berkenalan dengan pamannya Reidi. Kami biasa memanggilnya Om Rio. Ia orangnya enak diajak bicara. Mulanya, aku dan Om Rio ngobrol masalah nyanyi. Tapi lama kelamaan, ia bertanya tentang keluargaku. Kukatakan saja, bahwa kedua orangtuaku berasal dari keturunan orang-orang sakti. Meski kini, kesaktian mereka tidak lagi terwariskan pada generasiku.
Om Rio pun menebak. “Eh, sepertinya kamu sering melihat penampakan jin juga ya?” katanya setengah bertanya. “Tidak sering Om. Tapi beberapa kali pernah sih,” kataku.
Suatu malam, menjelang Maghrib, aku berdiri di pintu rumah Reidi. Aku tertegun melihat dua pohon kecapi di halaman rumah yang berdiri sejajar. Tingginya pun seimbang. Kedua kecapi itu seakan menjadi pintu gerbang di rumah ini. Saat itulah aku merasakan pundakku ditepuk.
“Kamu jangan bengong. Kalau kamu melamun, nanti dikerjain sama yang di pohon kecapi itu.” Aku menoleh ke belakang, kulihat kakek-kakek berpakain putih. Aku tidak terkejut dengan penampakan yang tiba-tiba seperti itu, karena beberapa kali aku telah melihatnya.
Ketika aku melihat ke arah yang ditunjuk kakek itu, nampak kakek-kakek yang berpakaian hitam-hitam. Ala Betawi tempo dulu. Ia berdiri di antara dua pohon kecapi. Aku kembali termangu.
Sejak berkenalan dengan Om Rio, hubunganku dengan Reidi mulai memanas. Sedikit ada masalah, kami langsung beradu mulut. Yang kemudian diakhiri dengan kejadian aneh. Aku kesurupan jin. Bila sudah demikian, maka yang menyadarkan kembali selalu Om Rio. Orang pintar yang mencoba mengobatiku, rata-rata terpental. Aku tetap kesurupan kalau belum disadarkan Om Rio.
Suatu ketika, aku pernah kesurupan hingga sepuluh jam. Dari Maghrib sampai Shubuh. Yang kutahu, aku merasakan tangan tinggi besar menarik kepalaku. Ia menjambak rambutku hingga aku terjengkang ke lantai. Darah pun mengucur dari kepala. Setelah itu aku tak ingat lagi.
Jam enam  pagi, aku baru diantar ke rumah, dengan luka di kepala dan goresan seperti luka terbakar di wajah. Bapak marah marah, melihat kondisiku. Karena tidak diberitahu sejak awal, bapak mengancam akan menuntut bila terjadi sesuatu yang buruk pada diriku.
Menurut cerita Reidi, saat kesurupan itu aku meronta-ronta. Enam orang yang memegangiku terpental dengan mudahnya. Sedangkan, luka bakar di wajah itu bermula, saat Om Rio berusaha menyadarkanku. Ia menggunakan nyala korek api untuk menakut-nakuti jin. “Kamu akan saya bakar, kalau tidak mau keluar,” kata Reidi menirukan ancaman Om Rio. Om Rio menyalakan api untuk  menakut-nakuti syetan, tapi tanpa diduga, aku justru merangsek ke arah api hingga wajahku mengalami luka bakar.
Hubunganku dengan Reidi yang telah berjalan lima tahun, akhirnya putus, setelah aku melihat ada orang ketiga di antara kami. Ada gadis lain yang naksir berat. Akhirnya aku mengalah. Aku putuskan untuk mengakhiri kisah cinta itu.
Sejak kehadiran gadis itu, aku sering sakit perut. Perutku membesar seperti hamil tujuh bulan. Aku merasakan seperti ada batu yang berjalan-jalan di dalam perut. Batu yang menggoreskan rasa perih di dalam.
Dokter yang menanganiku kebingungan. Hanya dipegang sedikit, aku sudah merasakan sakit yang luar biasa. Akhirnya aku dibawa ke dokter kandungan. Aku menjalani tes USG (Ultra Sonografi) untuk mengetahui benda apa yang bergerak-gerak di dalam perutku. Tapi anehnya, benda itu tidak terdeteksi. Ganjalan dalam perut itu hanya bisa dirasakan, tapi tidak bisa dilihat.
Karena keanehan demi keanehan itu, aku dibawa berobat ke orang pintar. Seorang dukun ternama di Jawa Tengah. Bu Tini namanya. Puluhan jarum dikeluarkan dari tubuhku. Tak lama kemudian perutku kempes.
Menurut Bu Tini, yang mengerjaiku itu adalah pacarnya Reidi. Tapi aku tidak begitu mempedulikannya. Toh aku sudah tidak lagi berpacaran dengan Reidi. Hubunganku hanya sebatas pertemanan sesama anggota band. Tidak lebih.
Sebulan kemudian, perutku membesar lagi. Aku kembali mendatangi Bu Tini. Kali ini, aku diberi kertas bertuliskan Arab gundul yang tak bisa kubaca. Kertas itu dibakar, kemudian dimasukkan ke dalam telur mentah yang telah dilubangi. Selanjutnya telur beserta abu itu harus kutelan. Itulah tanda akhir ritual pengobatan Bu Tini.
Selain mengobati sakit perut Bu Tini juga membekaliku jimat penglaris. Aku diberi cincin dan minyak wangi. Cincin itu dikenakan setiap kali manggung, sedangkan minyak wangi itu dioleskan di antara dua alis bila aku bepergian atau manggung. Katanya, suaraku akan bagus dan orang yang melihatku menjadi senang.
Dari penuturan kakak yang menemaniku, Bu Tini juga memberiku ajian penglaris melalui minuman. “Bu itu lho adiknya, nanti biar bagaimana pun kondisinya dia tetap yang paling menarik. Saya sudah pasang. Pokoknya saya sudah kasih dia minum, supaya suaranya tetap aman. Semua orang tetap tertarik sama dia. Biarpun ada penyanyi yang bagaimanapun dia yang paling menarik,” kata Bu Tini.
Apa yang disampaikan Bu Tini itu memang tidak kudengar langsung. Aku hanya mengetahuinya setelah kakak cerita. Tapi kuakui, setelah mengikuti semua saran Bu Tini, penampilanku jadi kian menarik. Orang-orang pada histeris. Bahkan kakak pernah melihat sendiri, ketika aku manggung di sebuah resepsi pernikahan. Bapak-bapak yang sedang asik menikmati hidangan makanan, spontan menaruh piring dan memperhatikanku. Ia acuh saja dengan penyanyi yang melantunkan lagu sebelumku.
Aku tidak tahu mengapa orang-orang seperti tersihir. Mereka terbengong-bengong. Padahal aku berpakaian tertutup. Pakai celana jeans, dan baju lengan panjang. Goyanganku pun biasa saja. Atau bahkan terkesan tidak berjoged. Tapi mengapa mereka begitu histeris?
Tahun 2003, aku bahkan dikejar-kejar penggemar di atas panggung. Kejadiannya begini, waktu itu ada seorang pengusaha yang mengadakan pesta akhir tahun. Johan namanya. Ia untung besar. Dan ingin merayakannya bersama warga.
Kebetulan di depan rumahnya itu ada lapangan. Di sanalah, didirikan panggung. Ada empat penyanyi yang diundang malam itu. Susi, yang masih teman dekatku, Tri, dan Elis.
Susi, Tri dan Elis, terkenal dengan joged maut mereka serta kostum yang menantang. Sementara aku tidak merubah gayaku. Aku tetap seperti yang lalu. Pakai jeans dan baju lengan panjang.
Kubiarkan mereka bertiga naik ke panggung terlebih dahulu. Saat itu penonton masih biasa saja. Mereka tidak histeris meski digoncang dengan aneka goyang maut. Suasana pun masih terkendali.
Suasana langsung berubah begitu tiba giliranku. Baru satu bait, nada lagu terucap, pengacara itu langsung berteriak. "Eh, siapa itu yang nyanyi?" tanyanya. Sebelum kudengar ada yang menjawab, Johan langsung naik panggung. "Ayo naik. Ayo naik," Johan mengajak teman-temannya berjoged di atas panggung.
Puluhan orang meloncat ke atas panggung. Mereka terus bergoyang sampai satu lagu selesai. Kulanjutkan dengan lagu kedua, yang di lapangan juga semakin semangat. Mereka berteriak histeris. Aku pun tetap tenang. Setelah tiga lagu, aku minta izin turun. Aku ingin penyanyi lain naik ke atas panggung. Karena sedari awal, masing-masing penyanyi mendapat jatah tiga lagu.
"Ayo terus. Teruskan nyanyinya," kata Johan sambil memberikan beberapa lembar uang ratusan. Bila uang yang biasa disebut dengan saweran itu masih diberikan, maka penyanyi dangdut itu tidak boleh turun. Ia harus tetap menyanyi di panggung.
Saat itu, aku sudah mulai terdesak oleh penonton yang makin memenuhi panggung. Aku pun bergeser ke belakang. Aku berharap ada di antara penyanyi lain yang naik panggung. Setidaknya mereka menemani penonton berjoged sehingga aku bisa fokus menyanyi. Tapi yang kulihat, mata Johan tidak melepaskanku sedetik pun. Ia terus menatapku. Beberapa temannya juga bersikap serupa. Sampai ada yang sempat bertanya dimana rumahku.   
Sudah lima lagu, kunyanyikan tapi saweran masih terus dikasih. "Sudah Bang, gentian sama yang lain," kataku. "Nggak bisa. Kamu saja yang nyanyi," kata Johan dengan lantang.
Aku pun tidak punya pilihan. Kulanjutkan lagu demi lagu. Tak terasa sepuluh lagu sudah kulantunkan. Secara fisik, aku sudah mulai lelah. Aku juga tidak dengan teman-teman. Mereka seharusnya juga mendapatkan kesempatan yang sama sepertiku.
Aku mulai bingung. Orang-orang yang berjoged di atas panggung itu terus merangsekku. Sampai ada yang kupukul dengan mike, tapi dia tidak jera. Terakhir, kukatakan kepada Johan. "Bang, maaf deh bang, aku sudah capek. Ada penyanyi lain. Gantian deh," kataku.
Belum sempat Johan menjawab perkataanku, kukatakan kepada pemain musik, agar menghentikan musiknya. Mereka pun menuruti keinginanku. Musik terhenti. Aku hendak turun. Tapi Johan tetap memaksaku. "Kamu tetap menyanyi. Saya masih punya uang. Saya masih banyak duit," katanya sambil mengeluarkan segebok uang ratusan ribu. "Selagi saya masih bisa bayar kamu, kamu harus tetap nyanyi," paksanya lagi.
Dengan halus, aku menolak permintaannya. "Yang lain saja Bang," kataku pelan. "Nggak, kamu saja yang nyanyi. Mau berapa?" tanyanya. Sambil menyodorkan beberapa lembar uang ratusan ribu.
"Mainkan musik lagi!" katanya sambil memasukkan lembaran uang itu ke balik kaosku. Caranya memberikan uang, kulihat tidak pantas. Maka dengan reflek kugerakkan tanganku untuk menampiknya.
Teman-temanku yang berada di bawah, merasakan apa yang kualami. Mereka tidak terima, bila aku dilecehkan begitu. Akhirnya mereka naik panggung. Mereka mengingatkan Johan agar sopan sedikit. Johan tidak terima. "Saya bayar. Yang lain tidak nyanyi, tidak apa-apa. Yang penting dia yang nyanyi," katanya dengan nada keras.
Pentas dangdut malam itu pun berakhir rusuh. Johan tetap bersikukuh dengan pendiriannya, sementara aku sendiri sudah kecapekan secara fisik. Secara mental aku merasa dilecehkan. Akhirnya aku turun panggung dan meninggalkan pentas malam itu bersama teman-teman. Setidaknya, aku dapat tiga jutaan dari uang saweran.
Dendam sesama penyanyi.
Pentas malam itu meninggalkan luka yang dalam di hati tiga penyanya lainnya. Mereka  merasa terhina karena keberadaannya tidak dihiraukan. Padahal secara kostum atau pun goyangan dangdut, aku tidak apa-apanya dibandingkan mereka. Sementara uang yang mereka dapatkan tidak banyak. Sekitar tiga ratusan ribu, sementara aku sendiri mendapat tiga juta dari saweran. Itu diluar honor.
Susi pun mulai memasang sikap bermusuhan denganku di atas panggung. Setiap kali melihat penonton lebih senang dengan penampilanku, ia memasang raut muka yang tidak senang. Jogednya pun langsung menjadi-jadi. Kalau saya membeli kostum panggung yang baru, ia pun membeli kostum yang lebih baik dariku. Ia ingin nampak lebih baik dariku dalam segala hal. Meski kenyataan di atas panggung tidaklah demikian. Ia tetap kalah denganku.
Tapi sejak keributan di pentas malam itu, setiap habis naik panggung, badanku selalu lemas. Aku seperti kehabisan tenaga. Di lain waktu, kepalaku juga terasa sakit. Sakit sekali. Sampai aku tidak bisa menyanyi. Tapi anehnya, setiap ada pentas dan tiba giliran menyanyi, tiba-tiba saja aku merasakan badanku sehat. Tangan yang gemetaran tidak lagi terasa. Sakit kepala pun hilang seketika. Tapi keesokan harinya, aku kembali terkapar.
Di dalam diriku, seperti ada dua kekuatan yang saling tarik ulur. Satu kekuatan menghalangiku naik panggung, kekuatan lainnya mendorongku naik pentas. Tapi selama ini, pertarungan di atas panggung itu selalu dimenangkan jin kiriman Bu Tini.
Sebenarnya, keindahan suaraku itu menarik perhatian sebuah studio rekaman. Beberapa kali ditawari rekaman. Yang terakhir, aku bahkan sudah menyelesaikan proses rekaman. Tinggal membuat video klip. Tapi akhirnya rekaman itu hanya tinggal kenangan. Karena produser rekaman itu meminta sesuatu yang tidak dapat kupenuhi. Ia ingin menjadikanku sebagai istri kedua, bila kasetku ingin dikeluarkan.
"Kaset kamu mau dikeluarkan, nggak? Kalau mau dikeluarkan, kamu harus jadi istri saya," katanya membuat persyaratan. Aku tidak mau memenuhi keinginannya. Bagiku lebih baik, kaset rekaman itu tidak diedarkan ke pasar, daripada aku harus melawan hati nuraniku. Aku tidak mau menyakiti istri dan anak-anaknya. Karena selama ini hubunganku baik dengan mereka.
Karena sering sakit-sakitan itu, aku berobat ke dokter. Aneh, dokter yang kudatangi menyarankanku berobat ke pengobatan alternatif. Secara medis, penyakitku itu sulit disembuhkan. Karena memang bukan penyakit biasa, katanya.
Kupenuhi saran dokter tersebut. Aku datang ke orang pintar. Dari punggungku dikeluarkan puluhan jarum. Tapi sepulang dari pengobatan itu, badanku justru semakin lemah. Belikatku seperti ditusuk-tusuk duri. Sakit dan perih rasanya.
Aku mencari dukun lain yang lebih sakti dengan ditemani ibu dan kakak. Kali ini, aku disuruh mandi kembang dengan mengenakan daster. Ibu disuruh memasukkan bunga ke dalam baskom lalu menyiramkannya ke badanku setelah terlebih dahulu dibacakan mantra-mantra oleh dukun.
Sebelum airnya habis dukun tersebut meminta ibu memasukkan perasan jeruk purut ke dalam air. Jeruk perut itu ibu yang membelinya. Ibu juga yang membelahnya. Lalu aku pun kembali mendapat guyuran air kembang bercampur jeruk perut sampai habis.
Selesai mandi, dukun itu meminta ibu mengganti daster yang kukenakan. Saat daster itu dibuka, betapa terkejutnya ibu kala melihat ada daun pisang kering seperti diseterika yang menempel di punggungku. Daun pisang itu lengket di kulit. Karena itulah dari punggungku keluar darah, ketika ibu menarik paksa daun pisang tersebut. Aku hanya bisa meringis. Tapi mau bagaimana lagi. Tidak mungkin kubiarkan daun pisang kering itu menempel selamanya di punggung.
Ketika dibuka, dari daun pisang itu dikeluarkan bungkusan putih kecil yang sudah keabu-abuan. Di dalamnya ada tulang-tulang kecil, jarum, paku, kerikil dan pecahan beling. Ada juga rambut.
Sepulang dari dukun tersebut, penyakitku sedikit berkurang. Berganti dengan mimpi-mimpi yang menyeramkan. Tapi tetap saja, aku masih selalu sakit-sakitan. Dan sembuh saat naik panggung. Kejadian seperti itu selalu terulang, hingga aku dipertemukan dengan Majalah Ghaib.
Waktu itu, kakakku yang tinggal di Bekasi membaca Majalah Ghaib. Dan kami pun tertarik mengikuti terapi ruqyah. kebetulan di Bekasi ada cabang Ghoib Ruqyah Syar'iyah di daerah Pondok Gedhe.
Aku lebih memilih mengikuti terapi ruqyah di kantor cabang Bekasi, karena lebih dekat dengan rumah kakakku. Aku bisa menginap di rumah kakak untuk sementara waktu, sambil terus menjalani terapi pengobatan.
Perjuangan mengikuti terapi ruqyah ternyata tidak semudah yang kubayangkan. Ada saja halangan yang menghambat kedatanganku ke kantor cabang Bekasi. Hingga suatu hari, kupaksakan ke sana dengan ditemani kakak.
Sewaktu tiba di pintu gerbang, aku sudah ketakutan. Aku ingin pulang. Mukaku pucat. Tanganku bergoyang-goyang terus tanpa dapat kucegah. Saat diterapi Ustadz Munif itulah keluar pengakuan jin yang katanya dikirim Bu Yeti untuk membantuku menyanyi. Jin itu yang membuat suaraku bagus. Dan dia tidak mau keluar. Dengan sabar Ustadz Munif meruqyah dan memaksa jin itu keluar.
Kini sudah lima kali, aku menjalani terapi ruqyah. Alhamdulillah, gangguan kesehatan itu berangsur berkurang. Sakit kepala tidak lagi sesakit dulu, gatal-gatalpun berkurang drastis.
Hanya saja, setiap terapi ruqyah jin penglaris itu masih tetap bercokol. Akhirnya Ustadz Munif menasehatiku agar berhenti menyanyi. Di awal memang terasa berat. Tapi aku harus kuatkan niat untuk menolak permintaan manggung yang masih terus mengalir. Dengan itu aku berharap menemukan kembali ketenangan hidup. Karena selama ini, aku mudah marah ketika berhadapan dengan orangtua. Aku juga tidak betah berada di rumah.
http://ruqyahmajalahghoib.blogspot.com/ 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar