Rabu, 04 Desember 2013

BEKAM : Selamat Tinggal MIGREN..!!

Oleh : dr. Abu Hana
Penglihatannya mulai melihat dobel dan agak kabur, badannya pun terasa kesemutan, beberapa jam setelah itu sakit kepala sebelah itu datang; MIGREN.
Terasa berdenyut-denyut di pelipis, dahi, dan berat disekitar mata sisi kanan. Nyeri akan semakin berat menjalar ke kuduk dan bahu, yang dirasakan hingga beberapa jam. Jika serangan berat sering tidak bisa melakukan pekerjaan apapun.
Kejadian migren bisa terjadi 3-4 kali dalam sebulan. Pada saat migren menyerang sering dirasakan tangan dan kaki terasa dingin, ulu hati tidak enak, mual dan sesekali muntah, jemari tangan membengkak, dan wajah kadang sembab……
Apa itu  MIGREN  dan Apa penyebabnya?
Kata migraine (migren) berasal dari Perancis dan datang dari Yunani “hemicrania” yang secara harfiah berarti “separuh kepala”. Sakit kepala migren merupakan salah satu bentuk sakit kepala yang disebabkan oleh gangguan pembuluh darah. Sampai dengan saat ini belum seluruhnya jelas mengapa orang tertimpa migren. Yang terjadi adalah pembuluh darah didalam kepala entah mengapa menguncup (vasokonstriksi). Keadaan ini yang mendahului serangan. Penguncupan pembuluh darah otak ini akan mengganggu fungsi otak sehingga menimbulkan gejala pembuka migren.
Secara otomatis, untuk mengimbangi penguncupan pembuluh darah otak, pembuluh darah yang berada di luar otak (di antaranya arteri temporal di sekitar pelipis) akan mengembang (vasodilatasi). Pelebaran ini akan menyebabkan terjadinya peregangan pada serat saraf disekitar arteri sehingga merangsang serat saraf ini melepaskan zat kimia. Zat ini akan menyebabkan terjadinya peradangan, dan rasa sakit yang luar biasa.
Migren merupakan suatu kondisi yang kronis dan kumat kumatan. Sebuah laporan menyebutkan sekitar 16% warga Jerman menderita penyakit migren akut, dalam arti serangannya datang paling tidak seminggu sekali. Migren bisa diderita semua usia, namun wanita lebih sering dari pada pria.

Sabtu, 05 Oktober 2013

Aku terbelenggu cinta sesama jenis

ALAMAT RUQYAH SYAR'IYYAH DAN BEKAM
JL. PERCETAKAN NEGARA IX A NO 79 B RAWASARI  JAKARTA PUSAT 
BUKA PRAKTEK BEKAM SETIAP HARI DARI JAM 09.00 S/D 17.00 TERMASUK HARI LIBUR DILUAR JAM BISA JANJIAN MENERIMA BEKAM PANGGILAN, BEKAM MASSAL, BEKAM SUAMI ISTRI , BEKAM KEPALA TANPA HARUS MENCUKUR RAMBUT DLL, Tlp : 0815 11311 554 , 0812 828 11254 WA / SMS 
Putri, 30 tahun, eksekutif muda

Harus darimana aku memulai kisahku ini, sulit rasanya. Tapi baiklah, sebut saja namaku Putri, kelahiran 30 tahun silam di Kudus, Jawa Tengah. Aku lahir dan dibesarkan di tengah keluarga baik-baik dan berkecukupan. Satu hal yang kubanggakan dari ayah adalah semangatnya untuk belajar dan terus belajar. Sesuatu yang menurun pada diriku.

Masa-masa kuliah di salah satu perguruan tinggi ternama di Jawa Tengah, kulalui dengan mulus. Meski disibukkan dengan kegiatan ekstra kurikuler, tapi hal itu tidak mempengaruhi nilai akademisku. Bahkan banyak pelajaran berharga yang kureguk kala bergelut dengan dunia organisasi.

Pengalaman yang memudahkanku meraih prestasi di dunia kerja. Hingga sekarang, terbilang sudah lima perusahaan yang pernah kulewati. Semuanya dalam posisi yang strategis dan sangat menjanjikan. Sekarang, aku menjadi asisten manajer di PMA Jepang.
Enam tahun silam, aku mengakhiri masa lajangku. Kebetulan, Allah mempertemukanku kembali dengan pemuda satu angkatan di atasku. Mas Hanif, begitu aku biasa memanggilnya. Waktu kuliah, kami sama-sama aktif di organisasi. Kami sering bertemu dan bertukar pikiran. Tapi bukan berarti kami telah merajut cinta. Hubungan kami masih sebatas teman satu organisasi yang sering menyuarakan sikap yang sama.

3 Tahun Terperangkap Cinta Dukun Cabul

Jangan mudah terbawa perasaan, lalu memperturutkan apa kata hati. Meski telah dikhianati orang yang paling dipercaya selama ini. Karena akibatnya bisa lebih fatal. Seperti kisah Nita, seorang janda yang dikhianati suaminya. Niatan untuk membalas dendam melalui tangan dukun berbuah petaka. Tiga tahun Nita terperangkap dalam dekapan dukun cabul. Berikut petikan kisahnya sebagaimana disampaikan kepada Ustadz Awaludin dari Ghoib Ruqyah Syar'iyyah cabang Jambi.
Perkenalanku dengan Rian bukan sesuatu yang kebetulan. Kebiasaanku minum es degan di warung depan kampusnya, membuat kami sering bertemu. Terutama jika jam istirahat, kebetulan juga kantor tempatku bekerja letaknya tidak jauh dari kampusnya Rian. Keseringan bertemu dan kesukaan pada menu minuman yang sama membuat kami sering bertegur sapa, bertukar cerita, hingga akhirnya suatu hari ia memberanikan diri ingin mengajakku nonton dan jalan-jalan.
Mendapat ajakan itu, rasanya aku seperti mendapat durian runtuh, bahkan mungkin lebih. Saat itu aku merasa lebih gembira mendengar ajakan Rian daripada informasi kenaikan gaji dan bonus yang akan kuterima bulan depan. Bagaimana tidak, gadis seusia diriku, yang selama ini hanya bisa berhayal mempunyai seorang kekasih… . Oh, belum apa-apa aku sudah membayangkan yang bukan-bukan. Padahal ajakan Rian baru sebatas nonton, jalan-jalan… dan Rian belum menyatakan apa-apa.
Oh …. tidak. Aku harus bisa mengendalikan diri. Meski tidak bisa kupungkiri bahwa dalam hati ini memendam harapan dan rasa cinta.  Aku jadi GR dan sering salah tingkah. Apakah itu yang namanya jatuh cinta? Entahlah, aku tidak lagi mempedulikannya. 

Ajian pengasihan membawaku kencan dengan tujuh belas cewek

Lira, 22 tahun, karyawan swasta.

Play boy SMA. Lira pantas mendapat julukan itu. Ia suka bergonta-ganti pacar. Tak kurang dari tujuh belas cewek sempat mampir di hatinya, saat ia masih berseragam putih abu-abu. Fantastis. Tujuh belas bukan jumlah yang sedikit. Mengapa begitu banyak cewek yang tergoda? Apa rahasianya? Lira menuturkan kisahnya kepada Majalah Ghoib di Jakarta. Berikut petikannya.
Palembang, 2.000
Hari masih pagi. Jarum jam baru menunjuk angka 10. Aku duduk di bawah pohon rindang di samping sekolah. Sudah lima menit kutinggalkan ruangan kelas dengan segala hiruk pikuknya. Aku ingin menyendiri, menghilangkan segala keresahan yang ada. Kupilih pohon rindang itu, karena tak seorang pun ada di sana. Sebagian teman memilih bermain bola. Ada juga yang bertahan di ruangan kelas atau ke kantin.
Keceriaan teman-teman yang bermain bola plastik di halaman sekolah tak lagi menarik perhatianku. Aku larut dalam kesendirianku. Aku terduduk lesu menatap sepasang muda-mudi yang duduk berdua di kantin sekolah. Linda dan Santo.
Kebersamaan mereka mengusik ketenanganku. Linda. Gadis manis itu sedang mengobrak-abrik perasaanku.  Kebersamaannya dengan Santo mengoyak-oyak hatiku. Mencabik-cabiknya hingga berkeping-keping. Aku tak menyangkal, bila hatiku tertarik dengan gadis berambut panjang itu. Rambutnya yang hitam tergerai bertambah manis dengan pipinya yang lesung.
Masalahnya, aku tidak punya keberanian untuk mengutarakan isi hatiku kepada Linda. Selama ini perasaan itu hanya kupendam sendiri. Perasaan malu dan rendah diri lebih menguasai diriku. Lantaran asal-usul diriku yang bukan berasal dari keluarga kaya. Tidak punya motor, seperti Santo atau teman-teman lainnya.

Aku cemburu pada mantan pacar suamiku

Terbalut cemburu pada mantan pacar suamiku/
Cinta pertama begitu melekat di hati, kata yang pernah pacaran. Hari-hari yang  'indah' itu terasa lengket. Kenangan demi kenangan pun tak mudah hilang, walau telah sekian lama berlalu. Meski, sang pujaan hati pun sudah menjadi milik orang lain. Tidak lagi single. Bila kenangan demi kenangan itu sesekali terlontarkan di hadapan sang istri atau suami, kecemburuan pun tak lagi dapat terhindarkan. Wajar memang. Menjadi tidak wajar, bila kemudian kecemburuan itu ditunggangi oleh jin. Seperti kisah Rine. Seorang ibu muda asal Cirebon, Jawa Barat.
Terus terang, seperti kebanyakan remaja, aku juga punya pacar. Seorang pemuda desaku yang sudah berniat untuk melamarku. Tapi aku menolaknya dengan halus. Kukatakan, bahwa usiaku masih muda. Aku ingin meringankan beban orangtua. Untuk saat itu, aku masih belum siap menikah.
Sebagai seorang wanita, aku juga memiliki kriteria seorang lelaki idaman yang kelak kuharapkan sebagai suamiku. Seorang lelaki yang penyayang, setia, perhatian dan bertanggungjawab. Dan lebih dari itu, aku mengharapkan seorang suami yang rajin shalat. Seorang suami yang mengerti masalah agama, sehingga bisa membimbing diriku serta anak-anakku ke masa depan yang lebih baik.
Sayangnya, kriteriaku itu tidak dimiliki pacarku. Singkat kata dia bukanlah lelaki idamanku. Itulah alasan utama mengapa aku menolak lamarannya dengan alasan belum siap.  
Setelah beberapa hari di rumah, aku bermain ke seorang teman yang secara kebetulan orangtuanya berprofesi sebagai dukun. Aku hanya ingin bersilaturrahmi dan berbagi cerita dengan anaknya. Tidak ada urusanku dengan orangtuanya. Entah kenapa, tiba-tiba orangtua temanku memberikan nasehat. "Kamu tidak usah kerja. Sudah menikah saja dengan tetangga desa kamu. Itu jodohmu," katanya.