Senin, 21 Agustus 2017

Bekam, Bukan Sekedar Obat Masuk Angin

TEMPO.CO, Jakarta - Punggung perenang peraih lima medali emas asal Amerika Serikat, Michael Phelps, dan pesenam Alex Naddour menjadi perbincangan di arena Olimpiade Rio. Pada punggung mereka terdapat “tato” biru bulat, jejak yang tertinggal dari cupping therapy alias terapi bekam.

Menurut dokter Dharma Wijaya, ahli akupunktur dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, prinsip bekam alias kop sama dengan akupunktur, yakni merangsang kulit dan sistem saraf. Dari kulit, rangsangan tersebut bisa merembet sampai ke otot di bawahnya atau organ yang berhubungan dengan otot tersebut. “Cara ini bisa mengatasi berbagai masalah, seperti pegal-pegal, menghilangkan nyeri, dan masuk angin,” kata Dharma Wijaya.

Saat darah tak mengalir lancar, sisa-sisa metabolisme tubuh menumpuk di beberapa titik. Akibatnya, timbul rasa tak nyaman seperti pegal atau nyeri di titik-titik tersebut. Dalam terapi bekam, kulit ditarik ke atas sehingga peredaran darah dipaksa melebar. Sebagian pembuluh darah kapiler akan pecah. Darah pun kembali mengalir deras. Sisa metabolisme yang tersumbat tadi juga ikut mengalir. Pembuluh kapiler yang pecah itu meninggalkan bekas berupa tanda kemerahan atau kebiruan pada permukaan kulit. “Pecahnya pembuluh darah ini tidak berbahaya, asal tak berlebihan,” ucap Dharma.

Sejatinya, bekam sudah lama ada dengan nama berbeda-beda di tiap negara. Di Cina, bekam dikenal dengan istilah pa ho kwam, di Arab disebut sebagai hijamah, dan cupping menjadi namanya di Inggris. Pada era Mesir Kuno, terapi ini sudah dipraktekkan pada 1.500 sebelum Masehi. Adapun masyarakat Yunani Kuno mengenalnya pada 413 sebelum Masehi dan di Cina terapi ini ada sejak lebih dari 2.500 tahun lalu. Praktek serupa diperintahkan Nabi Muhammad kepada umat Islam sebagai sunah.

Dulu, bekam dilakukan dengan menggunakan tanduk binatang, sehingga disebut juga sebagai terapi tanduk (horn therapy). Kemudian, tanduk digantikan oleh gelas kaca. Kini, peralatan terapi ini terus berkembang. Selain gelas atau tabung berbentuk seperti lonceng, alat yang digunakan adalah jarum kecil (lancing device) atau silet antiseptik untuk melukai kulit, pompa tangan (hand pump) untuk menyedot, dan sarung tangan kesehatan (rubber glove). Untuk menghindari penularan penyakit antarpasien, jarum atau silet hanya boleh dipakai sekali.

Ada dua jenis bekam yang berkembang, yakni bekam basah dan kering. Bekam kering hanya memanfaatkan gelas yang dipanaskan atau tabung yang disedot dengan pompa tangan. Adapun bekam kering memakai jarum atau silet kecil untuk menusuk-nusuk kulit sehingga darah dari pembuluh darah kapiler, yang terletak hanya beberapa milimeter dari permukaan kulit, bisa keluar.

Menurut Dharma, karena yang keluar adalah darah dari pembuluh kapiler, warnanya merah gelap. “Beda dengan dari pembuluh darah arteri, warna darahnya lebih terang,” katanya. Terkadang, darah tersebut bercampur dengan cairan organ di sekitarnya, sehingga berbentuk seperti lendir. Makin banyak darah merah gelap yang keluar, Dharma melanjutkan, reaksi terapi diyakini makin kuat.

Tapi, jika berlebihan, bisa-bisa pasien menjadi lemas. Menurut dia, terapi ini memiliki kelebihan, yakni bisa dilakukan dengan mudah dan murah. Efeknya pun langsung cepat terasa. Tapi, karena diaplikasikan hanya pada permukaan kulit, terapi ini tak bisa mengobati penyakit berat seperti tumor, kanker, dan penyakit jantung akut. “Kalau untuk pegal-pegal saja, bisa,” ujarnya.

Bagi yang ingin menjajal terapi ini, Dharma menyarankan agar tak keseringan. Sebab, terapi ini bisa menimbulkan peradangan atau luka pada kulit. Jika ingin melakukan bekam lagi, tunggulah sampai peradangan itu sembuh . Kondisi tubuh saat akan melakukan terapi juga harus fit, tak boleh terlalu lemah—misalnya karena sakit—dalam keadaan kenyang, atau mabuk. Musababnya, dalam keadaan tersebut, terapi ini justru akan membuat tubuh makin lemah.

Sumber : Tempo .co jakarta


Tidak ada komentar:

Posting Komentar